Stress nunggu pesawat kecil mending ngalamun...
Tanggal 11 Nopember 2009 saya dan teman saya berusaha pulang dari Asmat. Rencana kepulangan harus gagal karena pesawat Mimika Air gagal berangkat dari Timika ke Agats, sehingga kamipun harus menunda kepulangan kami.
Singkat kata kamipun mencari alternatif SpeedBoat untuk menuju Timika. Namun kita belum juga mendapatkan kepastian ke Timika. Akhirnya kami membuat kepastian sendiri. MEMBUAT GETHEK..
Iseng iseng berpikir : "oke deh, berakit-rakit ke hulu berenang-renang ketepian".. Lho kok malah salah ya pepatah itu? Bukannya berakit itu lebih menyenangkan daripada berenang, atau dengan kata balik, berenang lebih sakit daripada berakit?
Harusnya berenang renang ke hulu berakit-rakit ke tepian.. gitu saja
Berdelapan kami berakit dan ternyata di tengah laut harus ada satu yang dibuang karena berlebih muatan satu orang. Dan berdasar hitungan seperti ini: Ada dua orang batak, dua orang makasar, dua orang jawa dan dua orang toraja.. Kami pun berundi dan ditanyain satu satu..
Orang batak ditanya:"Bagaimana kalau orang Batak yang harus nyebur karena orang batak itu suaranya mengganggu??"
Orang batak menjawab: "Kami orang tenaga hukum.. baru mnyelesaikan kasus gede"
Tidak jadilah orang batak dicebur ke laut
Orang Makassar ditanya:"Bagaimana kalau orang makassar, karena mirip sama orang batak??"
Orang Makasar menjawab:"Terserah, kami sedang ditunggu keluarga karena ada yang sedang lahiran di rumah"
Gagallah orang Makassar diceburkan
Orang Toraja ditanya:"Bagaimana kalau orang Toraja??"
Orang Toraja menjawab:"Kami khan wanita.. tega betul"
Tanpa ditanya, orang-orang selain orang jawa sudah bersepakat.. "Kalau begitu orang Jawa saja yang diceburin, toh di mana mana ada orang Jawa gitu..."
Byurrrr...
Dan akhirnya diapun berenang dan mendaapat pertolongan dari sampan berisi 5 orang. Dengan masuknya orang jawa itu, maka sampan berisi 6 orang. Sampai tengah laut lagi, ternyata berlebihan muatan .. Dan ditanya lagi:
"Mari kita berundi.. Siapa yang harus nyebur" .. Si orang jawa pun mulai deg degan.. jangan-jangan saya lagi neeeh...
Tiba-tiba kapten sampan berujar..."Tenang mas.. kita tidak akan menyeburkan orang berdasar Jawa nya.. Santai-santai"..
Legalah dia...
Tapi tiba - tiba semua saling berbisik, dan lagi lagi dia diceburin...
Korban pun tanya:"Lha mengapa saya lagi diceburin.. katanya bukan berdasar Jawanya??"
Kapten menjawab:"Ya karena sampeyan sudah basah, sekalian saja.. Kalau yang jawa harus nyebur, kami juga orang jawaa semua"
Mari berenang-renang ke tepian....
Tampilkan postingan dengan label asmat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label asmat. Tampilkan semua postingan
Rabu, 11 November 2009
Senin, 02 November 2009
[Khayalan-ngayawara] Sesuatu, dari kita, untuk Indonesia.. Sesuatu, dari kita, untuk Papua
Hampir 2 minggu, saya berada di Asmat, rasanya sudah sedikit bosan.. blusukan di Asmat rasanya adalah ya seperti itu seperti itu saja. Saya dan teman-teman akhirnya justru mendapatkan kesimpulan.. Jika kita ke Asmat, apa yang indah dari Asmat, akhirnya di mata kita akan terkalahkan oleh hal yang tidak menyenangkan..
Lho? Apa saja yang tidak menyenangkan? Sulitnya hidup di kota Agats, membuat semua orang malas tinggal disini meskipun ada beberapa gelintir orang Toraja, Jawa, Makassar, yang mereka nekad karena melihat keuntungan diri mereka sendiri ada di kota ini.
Ketiadaan listrik yang diselenggarakan negara (meski ada PLN), ketiadaan PDAM, ketiadaan Telekomunikasi selain Telkomsel yang juga sering njengking akibat overload atau ganti genset.. Ketiadaan jalan darat yang memadai untuk lalu lintas darat, sangat mempersulit kehidupan disini. Air yang diminum orang adalah Air Minum Dalam Kemasan yang didapat dari daerah lain dengan harga yang mahal, atau air hujan yang ditampung. Siapa yang bisa menampung lebih banyak, maka dia akan lebih lama bertahan di musim kemarau.
Ketiadaan Listrik yang terselenggara negara juga membuat iisiatif orang yang mampu untuk menggunakan genset dengan bensin Rp 10.000,00 perliter dengan perkiraan per minggu habis 10 liter. Ketiadaan jalan darat memaksa harga juga makin melambung.. Transportasi air dan udara adalah alternatif pilihan mereka. Transportasi air memiliki beberapa alernatif dengan menggunakan kapal kapal besar seperti KM Kelimutu yang 2 minggu datang 2 kali ke kota Agats, sekali ketika dari Merauke ke Makassar dan Jawa, dan sekali ketika kapal itu balik ke Merauke. Alternatif lain adalah dengan charter speedboat yang biasanya sekitar 12 juta sekali jalan untuk Agats - Timika. Sebuah harga yang sangat mahal untuk sebuah transportasi dengan resiko tinggi.. (kecuali bagi mereka yang suka bertualang).. yang salah salah akan terperosok seperti yang kawan kami alami ketika terperosok ke pulau Tiga, Pulau dimana kru TV7 (Trans7 sekarang) harus hilang di pulau yang kata orang masih ada pemakan manusianya itu.
Segudang masalah disini.. Apa Pendapatan Asli Daerah sini? Hampir pasti jawabnya adalah: TIDAK ADA. Pertanian tidak jalan di lahan gambut asin seperti ini. Jalan seluruhnya adalah jalan kayu. Seluruh Agats.. Beras diimpor dari Jawa, sayuran dari Sulawesi dan Jawa, dan sebagainya. Bagaimana tidak mahal??? Berikut list harga yang bisa saya dapat:
1. Batu Kapak = 5 juta
2. Rumbai semacam koteka = 700 ribu
3. Kacang panjang 5 = 5000
4. Wortel 1 biji = 5000
5. dsb
Kami kaget ketika harus masuk pasar dan menanyakan beberapa harga.. uang di saku yang di Jogja 20.000 kami berani main ke mana mana, harus kami simpan dikumpulkan beberapa kali untuk jajan disini..
Permasalahan lain disini selain Sumber Daya Alam, adalah Sumber Daya Manusia yang terhitung kurang. Sebuah lingkaran setan yang ada disini adalah : SDM yang kurang ternyata membawa solidaritas tinggi kesukuan (karena merasa terdesak orang lain) yang kemudian memencilkan mereka sendiri dan akhirnya menutup mereka dari kemajuan, yang memperendah tingkat SDM mereka juga.. Masyarakat asli disini akhirnya hanya menjadi nelayan, tukang pikul dan segudang pekerjaan kasar lainnya, yang padahal mereka sebenarnya tidak bodoh.. Semua makhluk Tuhan memiliki potensi dimanapun letaknya..
Masalah Papua, apapun, dan dimanapun kotanya, adalah masalah kita juga. Kita tidak bisa berbangga ketika Freeport menghasilkan emas yang justru diambil orang lain, tidak bisa berbangga juga dengan budaya Asmat tanpa kita memperhatikan masalah yang ada di Asmat ini. Seharusnya kita, anak bangsa melihat kondisi seperti ini..
Terbayang satu khayalan untuk membangun sesuatu yang berguna bagi kota Asmat ini dengan cara memotong lingkaran setan SDM dan SDA disini.. Misalnya dengan pembuatan sebuah lomba karya tulis saja Teknologi Tepat Guna, atau Pengembangan Sumber Daya, untuk Asmat, dengan beberapa info awal identifikasi masalah dan potensi Asmat ini dari nara sumber yang ditunjuk, dimana hasil karya tulis harus dapat dipertanggungjawabkan suatu ketika jika memenangkan lomba, dengan implementasi Karya Tulis tersebut... Misal: disini air sungai memiliki debit yang cukup untuk memutar Turbin Air berbagai jenis, yang berpotensi dibuat sebuah pembangkitan tenaga Listrik. Atau misal lebih hebat, berlaku seperti orang Belanda dalam membuang air laut dari depresi continental yang ada di negaranya..
Tetapi.. ini baru sekedar catatan awal , catatan perjalanan , dan sekaligus Curhat tentang keprihatinan bahwa masih ada bagian negara kita yang seperti ini.. Hiks..
Namun, semoga dari tulisan yang ngayawara ini juga ada sebuah tindakan lanjut yang akhirnya bisa sedikit demi sedikit, dari Multiply -ku Untuk Indonesiaku
Langganan:
Postingan (Atom)