Senin, 09 November 2009
Kamis, 05 November 2009
Rabu, 04 November 2009
Argh.. menyesal seumur hidup Polisi muda ini...
http://www.kaskus.us/showthread.php?t=2698351
Ternyata kedewasaan itu MUTLAK perlu.. boleh fanatik dengan apa pun yang kita pegang tetapi jangan sampai membuat kesombongan... lengkapnya baca aja di kaskus...
Selasa, 03 November 2009
[bayar utang] Cerita tentang pak Welas..
Suatu ketika saya pergi ke Karawang untuk menjenguk anak dan istri yang saat itu masih di Karawang. Saat pulangnya ke Jogja, dengan bis Sumber Alam, saya bersebelahan dengan seorang bapak yang bernama Pak Welas, asli Bantul namun berdomisili di Kulonprogo. Profesi beliau adalah seorang anggota Dinas Gangguan PLN setempat. Beliau tiba-tiba menceritakan beberapa cerita yang menunjukkan betapa beratnya bekerja sebagai anggota dinas Gangguan PLN.
Pak Welas(dengan bahasa jawa halus): Wah mas, kalau saya bisa kerja yang lain, saya kerja yang lain mas, tapi saya nggak bisa apa apa.. bisanya cuma ini...
Itulah salah satu kata-kata pak Welas.. Beliaupun mulai bercerita banyak hal antara lain adalah suka duka ketika dia harus menghidupkan listrik 14.000 rumah di sekitar Kulonprogo saat gempa Jogja melanda, sementara ibu beliau juga menjadi korban yang alhamdulillah selamat namun terluka parah karena tertimpa kayu besar.
Dimarah-marahin orang karena gangguan alam yang menyebabkan listrik terputus, seperti pepohonan, hujan angin, tiang listrik di sekitar pantai selatan Jawa yang sering sekali berkarat. Dan semua itu harus ditanggung oleh 4 ORANG PERSONEL saja. Bahkan hampir dibunuh orang juga pernah. Kisahnya adalah ketika dia mengadakan program pemangkasan pohon, melewati kebun penghasil gula jawa, pemiliknya tidak terima, dan malah mendatangi pak Welas sambil membawa arit.. Padahal orang tersebut adalah berlabel Haji. Namun sore harinya pak Haji itu mendatangi lagi pak Welas dan meminta potong aja seluruh pohon kelapanya. Ternyata siang itu, anakbuah pak Haji tewas di atas pohon akibat tersengat Listrik.
4 orang tersebut selalu pernah terjadi masalah dengan kecelakaan kerja, jatuh dari tiang akibat tersengat tegangan tinggi juga pasti mereka alami. Belum lagi seorang mantan teman kerja yang telah pindah di Gunungkidul harus meninggal di Transmisi Tegangan Tinggi akibat kesalahan prosedur informasi yang melalui HT. Listrik di pusat telah dihidupkan ketika orang tersebut masih di atas mengahadapi listrik. Pak Welas sendiri pernah koma 3 hari akibat jatuh dari tiang lisrik dengan luka bakar di dada.
Tidak bisa tidur tiap malam karena ada gangguan per rumah maupun per daerah juga harus dihadapi pak Welas dengan pengabdiannya kepada negara tersebut. Saat itu beliau mengatakan: siapapun rasanya kenal dengannya, dan akan mencari dia untuk memarahi. Didemo warga hanya karena salah satu harus diputus sambungan listrik, juga sering dia dapatkan.
Cerita itu mengubah cara pandang saya terhadap gangguan PLN. Sejak saat itu, seperti apapun kondisinya saya berusaha sekali untuk tidak marah-marah atau misuh2 ketika PLN harus mematikan ataupun karena gangguan. Bahkan ketika jaman kost kita juga tahu sendiri, gardu dan subgardu PLN yang ada di sekitar kampus UGM yang sering meledak adalah karena beban di luar kapasitas yang sebenarnya telah terperhitungkan dengan baik.. Jawabannya adalah: pencurian listrik baik oleh rumah dan pedagang kakilima yang seneng nyanthol listrik, adalah hal yang PLN tidak memperhitungkan hal itu, karena memang itu adalah pencurian.
Lebih-lebih disaat seperti saya di Asmat ini, PLN telah ada, PDAM juga, namun mengapa tidak bisa aktif? Justru karena warga asli daerah ini melakukan penyulitan-penyulitan yang membawa primordialisme. Dengan alasan tanah milik nenek moyang, kabel yang melintasi tanah itu saja diminta membayar sewa yang cukup tinggi, begitu pula dengan pipa.. Dengan demikian siapa yang pantas dipersalahkan?
Semoga cerita ini menjadi pembayaran hutang saya kepada adik saya, yang saya janji menceriterakan dari sisi yang akhirnya bisa saya pahami.. Saya tidak memihak PLN, namun kita berusaha melihat dari sisi yang berbeda yang ternyata ada kesalahan di sisi lain itu....
Pak Welas(dengan bahasa jawa halus): Wah mas, kalau saya bisa kerja yang lain, saya kerja yang lain mas, tapi saya nggak bisa apa apa.. bisanya cuma ini...
Itulah salah satu kata-kata pak Welas.. Beliaupun mulai bercerita banyak hal antara lain adalah suka duka ketika dia harus menghidupkan listrik 14.000 rumah di sekitar Kulonprogo saat gempa Jogja melanda, sementara ibu beliau juga menjadi korban yang alhamdulillah selamat namun terluka parah karena tertimpa kayu besar.
Dimarah-marahin orang karena gangguan alam yang menyebabkan listrik terputus, seperti pepohonan, hujan angin, tiang listrik di sekitar pantai selatan Jawa yang sering sekali berkarat. Dan semua itu harus ditanggung oleh 4 ORANG PERSONEL saja. Bahkan hampir dibunuh orang juga pernah. Kisahnya adalah ketika dia mengadakan program pemangkasan pohon, melewati kebun penghasil gula jawa, pemiliknya tidak terima, dan malah mendatangi pak Welas sambil membawa arit.. Padahal orang tersebut adalah berlabel Haji. Namun sore harinya pak Haji itu mendatangi lagi pak Welas dan meminta potong aja seluruh pohon kelapanya. Ternyata siang itu, anakbuah pak Haji tewas di atas pohon akibat tersengat Listrik.
4 orang tersebut selalu pernah terjadi masalah dengan kecelakaan kerja, jatuh dari tiang akibat tersengat tegangan tinggi juga pasti mereka alami. Belum lagi seorang mantan teman kerja yang telah pindah di Gunungkidul harus meninggal di Transmisi Tegangan Tinggi akibat kesalahan prosedur informasi yang melalui HT. Listrik di pusat telah dihidupkan ketika orang tersebut masih di atas mengahadapi listrik. Pak Welas sendiri pernah koma 3 hari akibat jatuh dari tiang lisrik dengan luka bakar di dada.
Tidak bisa tidur tiap malam karena ada gangguan per rumah maupun per daerah juga harus dihadapi pak Welas dengan pengabdiannya kepada negara tersebut. Saat itu beliau mengatakan: siapapun rasanya kenal dengannya, dan akan mencari dia untuk memarahi. Didemo warga hanya karena salah satu harus diputus sambungan listrik, juga sering dia dapatkan.
Cerita itu mengubah cara pandang saya terhadap gangguan PLN. Sejak saat itu, seperti apapun kondisinya saya berusaha sekali untuk tidak marah-marah atau misuh2 ketika PLN harus mematikan ataupun karena gangguan. Bahkan ketika jaman kost kita juga tahu sendiri, gardu dan subgardu PLN yang ada di sekitar kampus UGM yang sering meledak adalah karena beban di luar kapasitas yang sebenarnya telah terperhitungkan dengan baik.. Jawabannya adalah: pencurian listrik baik oleh rumah dan pedagang kakilima yang seneng nyanthol listrik, adalah hal yang PLN tidak memperhitungkan hal itu, karena memang itu adalah pencurian.
Lebih-lebih disaat seperti saya di Asmat ini, PLN telah ada, PDAM juga, namun mengapa tidak bisa aktif? Justru karena warga asli daerah ini melakukan penyulitan-penyulitan yang membawa primordialisme. Dengan alasan tanah milik nenek moyang, kabel yang melintasi tanah itu saja diminta membayar sewa yang cukup tinggi, begitu pula dengan pipa.. Dengan demikian siapa yang pantas dipersalahkan?
Semoga cerita ini menjadi pembayaran hutang saya kepada adik saya, yang saya janji menceriterakan dari sisi yang akhirnya bisa saya pahami.. Saya tidak memihak PLN, namun kita berusaha melihat dari sisi yang berbeda yang ternyata ada kesalahan di sisi lain itu....
[Nonton TV] Bangsa yang sedang berwudlu...
Sedih melihat kenyataan negeri ini yang sedang dilanda mafia-mafia.. tapi senang karena bangsa ini sedang berwudlu..
Wudlu bagi umat muslim, merupakan proses bersuci dari atas sampai bawah. Atas dilakukan lebih dahulu daripada bawah. Karena jika bawah dibersihkan terlebih dahulu, maka bagian bawah akan kotor lagi ketika atas dibersihkan.. Namun sebelum atas dilakukan, ada proses dimana kedua belah tangan saling membersihkan, dimana merupakan alat yang digunakan untuk saling membersihkan. Kali ini, diantara lembaga pembersih negara saling mencuci yang akhirnya kelak semoga bangsa kita menjadi dewasa dan bersih.. Semoga
Wudlu bagi umat muslim, merupakan proses bersuci dari atas sampai bawah. Atas dilakukan lebih dahulu daripada bawah. Karena jika bawah dibersihkan terlebih dahulu, maka bagian bawah akan kotor lagi ketika atas dibersihkan.. Namun sebelum atas dilakukan, ada proses dimana kedua belah tangan saling membersihkan, dimana merupakan alat yang digunakan untuk saling membersihkan. Kali ini, diantara lembaga pembersih negara saling mencuci yang akhirnya kelak semoga bangsa kita menjadi dewasa dan bersih.. Semoga
Senin, 02 November 2009
[Khayalan-ngayawara] Sesuatu, dari kita, untuk Indonesia.. Sesuatu, dari kita, untuk Papua
Hampir 2 minggu, saya berada di Asmat, rasanya sudah sedikit bosan.. blusukan di Asmat rasanya adalah ya seperti itu seperti itu saja. Saya dan teman-teman akhirnya justru mendapatkan kesimpulan.. Jika kita ke Asmat, apa yang indah dari Asmat, akhirnya di mata kita akan terkalahkan oleh hal yang tidak menyenangkan..
Lho? Apa saja yang tidak menyenangkan? Sulitnya hidup di kota Agats, membuat semua orang malas tinggal disini meskipun ada beberapa gelintir orang Toraja, Jawa, Makassar, yang mereka nekad karena melihat keuntungan diri mereka sendiri ada di kota ini.
Ketiadaan listrik yang diselenggarakan negara (meski ada PLN), ketiadaan PDAM, ketiadaan Telekomunikasi selain Telkomsel yang juga sering njengking akibat overload atau ganti genset.. Ketiadaan jalan darat yang memadai untuk lalu lintas darat, sangat mempersulit kehidupan disini. Air yang diminum orang adalah Air Minum Dalam Kemasan yang didapat dari daerah lain dengan harga yang mahal, atau air hujan yang ditampung. Siapa yang bisa menampung lebih banyak, maka dia akan lebih lama bertahan di musim kemarau.
Ketiadaan Listrik yang terselenggara negara juga membuat iisiatif orang yang mampu untuk menggunakan genset dengan bensin Rp 10.000,00 perliter dengan perkiraan per minggu habis 10 liter. Ketiadaan jalan darat memaksa harga juga makin melambung.. Transportasi air dan udara adalah alternatif pilihan mereka. Transportasi air memiliki beberapa alernatif dengan menggunakan kapal kapal besar seperti KM Kelimutu yang 2 minggu datang 2 kali ke kota Agats, sekali ketika dari Merauke ke Makassar dan Jawa, dan sekali ketika kapal itu balik ke Merauke. Alternatif lain adalah dengan charter speedboat yang biasanya sekitar 12 juta sekali jalan untuk Agats - Timika. Sebuah harga yang sangat mahal untuk sebuah transportasi dengan resiko tinggi.. (kecuali bagi mereka yang suka bertualang).. yang salah salah akan terperosok seperti yang kawan kami alami ketika terperosok ke pulau Tiga, Pulau dimana kru TV7 (Trans7 sekarang) harus hilang di pulau yang kata orang masih ada pemakan manusianya itu.
Segudang masalah disini.. Apa Pendapatan Asli Daerah sini? Hampir pasti jawabnya adalah: TIDAK ADA. Pertanian tidak jalan di lahan gambut asin seperti ini. Jalan seluruhnya adalah jalan kayu. Seluruh Agats.. Beras diimpor dari Jawa, sayuran dari Sulawesi dan Jawa, dan sebagainya. Bagaimana tidak mahal??? Berikut list harga yang bisa saya dapat:
1. Batu Kapak = 5 juta
2. Rumbai semacam koteka = 700 ribu
3. Kacang panjang 5 = 5000
4. Wortel 1 biji = 5000
5. dsb
Kami kaget ketika harus masuk pasar dan menanyakan beberapa harga.. uang di saku yang di Jogja 20.000 kami berani main ke mana mana, harus kami simpan dikumpulkan beberapa kali untuk jajan disini..
Permasalahan lain disini selain Sumber Daya Alam, adalah Sumber Daya Manusia yang terhitung kurang. Sebuah lingkaran setan yang ada disini adalah : SDM yang kurang ternyata membawa solidaritas tinggi kesukuan (karena merasa terdesak orang lain) yang kemudian memencilkan mereka sendiri dan akhirnya menutup mereka dari kemajuan, yang memperendah tingkat SDM mereka juga.. Masyarakat asli disini akhirnya hanya menjadi nelayan, tukang pikul dan segudang pekerjaan kasar lainnya, yang padahal mereka sebenarnya tidak bodoh.. Semua makhluk Tuhan memiliki potensi dimanapun letaknya..
Masalah Papua, apapun, dan dimanapun kotanya, adalah masalah kita juga. Kita tidak bisa berbangga ketika Freeport menghasilkan emas yang justru diambil orang lain, tidak bisa berbangga juga dengan budaya Asmat tanpa kita memperhatikan masalah yang ada di Asmat ini. Seharusnya kita, anak bangsa melihat kondisi seperti ini..
Terbayang satu khayalan untuk membangun sesuatu yang berguna bagi kota Asmat ini dengan cara memotong lingkaran setan SDM dan SDA disini.. Misalnya dengan pembuatan sebuah lomba karya tulis saja Teknologi Tepat Guna, atau Pengembangan Sumber Daya, untuk Asmat, dengan beberapa info awal identifikasi masalah dan potensi Asmat ini dari nara sumber yang ditunjuk, dimana hasil karya tulis harus dapat dipertanggungjawabkan suatu ketika jika memenangkan lomba, dengan implementasi Karya Tulis tersebut... Misal: disini air sungai memiliki debit yang cukup untuk memutar Turbin Air berbagai jenis, yang berpotensi dibuat sebuah pembangkitan tenaga Listrik. Atau misal lebih hebat, berlaku seperti orang Belanda dalam membuang air laut dari depresi continental yang ada di negaranya..
Tetapi.. ini baru sekedar catatan awal , catatan perjalanan , dan sekaligus Curhat tentang keprihatinan bahwa masih ada bagian negara kita yang seperti ini.. Hiks..
Namun, semoga dari tulisan yang ngayawara ini juga ada sebuah tindakan lanjut yang akhirnya bisa sedikit demi sedikit, dari Multiply -ku Untuk Indonesiaku
Langganan:
Postingan (Atom)